Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

5
310675

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?). Bosan menghadapi masalah yang ada, mungkin bisa menjadi “kalimat kunci” dimana seseorang bersedia untuk mempelajari sumber masalah yang ada.

Seperti yang disampaikan oleh Ibu Retno Utari, Widyaiswara Madya, Pusdiklat KNPK dalam tulisannya “Taksonomi Bloom, Apa dan bagaimana menggunakannya?”, disampaikan bahwa Pembuatan kurikulum yang terdiri dari Term of Reference [TOR], Garis Besar Program Pembelajaran [GBPP] maupun Satuan Acara Pembelajaran [SAP] dapat dikatakan pekerjaan rutin widyaiswara.

Biasanya timbul masalah ketika mencari kesepakatan mengenai pemilihan taksonomi bloom. Kadang pemilihan kata kerja untuk menyatakan tujuan program, kompetensi dasar maupun indikator pencapaian dalam GBPP tersebut dirasakan kurang pas dengan apa yang dimaksud oleh penyusun.

Tenyata bagi seorang widyaiswara pemilihan kata kerja untuk menyatakan tujuan program, kompetensi dasar maupun indikator pencapaian terkadang masih menemukan kesulitan.

Jika seorang widyaiswara mau belajar kembali tentang Taksonomi Bloom untuk mengatasi masalah pada pekerjaan rutinnya, maka sebagai seorang guru mempelajari kembali tentang Taksonomi Bloom adalah sebuah keharusan.

Guru yang mepunyai tugas utama dan rutin dilaksanakan setiap hari adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Membuat perencanaan sebelum melaksanakan tugas utama sebagai seorang adalah salah satu ciri guru profesional yang baik. Rancangan pelaksanaan tugas ini pada kalangan guru disebut dengan istilah “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran [RPP]”.

Dalam hal menyusun RPP inilah salah satu kemampuan guru yang dibutuhkan adalah memahami Taksonomi Bloom. Karena pentingnya memahami Taksonomi Bloom ini, jadi sebagai seorang guru ada baiknya kita coba belajar “Apa dan bagaimana menggunakan Taksonomi Bloom?”.

Untuk mepermudah belajarnya, kita coba mempelajari materi yang pernah ditulis oleh Ibu Retno Utari, Widyaiswara Madya, Pusdiklat KNPK tentang “Apa dan bagaimana menggunakan Taksonomi Bloom?”.

SEJARAH TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.

Bloom, lahir pada tanggal 21 Februari 1913 di Lansford, Pennsylvania dan berhasil meraih doktor di bidang pendidikan dari The University of Chicago pada tahun 1942. Ia dikenal sebagai konsultan dan aktivis internasonal di bidang pendidikan dan berhasil membuat perubahan besar dalam sistem pendidikan di India.

Ia mendirikan the International Association for the Evaluation of Educational Achievement, the IEA dan mengembangkan the Measurement, Evaluation, and Statistical Analysis [MESA] program pada University of Chicago.

Di akhir hayatnya, Bloom menjabat sebagai Chairman of Research and Development Committees of the College Entrance Examination Board dan The President of the American Educational Research Association. Ia meninggal pada 13 September 1999.

Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanyameminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka.

Konferensi tersebut merupakan lanjutan dari konferensi yang dilakukan pada tahun 1948. Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam kemampuan berpikir [thinking behaviors]. Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya.

Akhirnya pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom. Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi.

Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual [intellectual behaviors] yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

RANAH KOGNITIF – RANAH AFEKTIF – RANAH PSIKOMOTORIK

Ranah Kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi, dan sikap. Ranah Psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan motorik / kemampuan fisik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Para trainer biasanya mengkaitkan ketiga ranah ini dengan Knowledge, Skill and Attitude [KSA]. Kognitif menekankan pada Knowledge, Afektif pada Attitude, dan Psikomotorik pada Skill.

Sebenarnya di Indonesia pun, kita memiliki tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan doktrinnya Cipta, Rasa dan Karsa atau Penalaran, Penghayatan, dan Pengamalan. Cipta dapat diidentikkan dengan ranah kognitif , rasa dengan ranah afektif dan karsa dengan ranah psikomotorik.

Ranah kognitif mengurutkan keahlian berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir menggambarkan tahap berpikir yang harus dikuasai oleh siswa agar mampu mengaplikasikan teori kedalam perbuatan.

Ranah Kognitif

Ranah kognitif ini terdiri atas enam level, yaitu:

  • [1] knowledge [pengetahuan],
  • [2] comprehension [pemahaman atau persepsi],
  • [3] application [penerapan],
  • [4] analysis [penguraian atau penjabaran],
  • [5] synthesis [pemaduan], dan
  • [6] evaluation [penilaian].

Level ranah ini dapat digambarkan dalam bentuk piramida berikut:

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Tiga level pertama [terbawah] merupakan Lower Order Thinking Skills, sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skill. Namun demikian pembuatan level ini bukan berarti bahwa lower level tidak penting. Justru lower order thinking skill ini harus dilalui dulu untuk
naik ke tingkat berikutnya. Skema ini hanya menunjukkan bahwa semakin tinggi semakin sulit kemampuan berpikirnya.
Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Ranah Afektif

Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait
dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat, minat,
motivasi, dan sikap. Lima kategori ranah ini diurutkan mulai dari
perilaku yang sederhana hingga yang paling kompleks.
Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Ranah Psikomotorik

Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Keterampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan
tersebut dapat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit.

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Revisi Taksonomi Bloom

Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan
zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif.

Revisi tersebut meliputi:

  1. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.
  2. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan
    level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan
    mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dapat
    dijelaskan sebagai berikut:

     

    • Pada level 1, knowledge diubah menjadi remembering [mengingat].
    • Pada level 2, comprehension dipertegas menjadi understanding [memahami].
    • Pada level 3, application diubah menjadi applying [menerapkan].
    • Pada level 4, analysis menjadi analyzing [menganalisis].
    • Pada level 5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating [mencipta].
    • Pada level 6, Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating [menilai].

Jadi, Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level: remembering [mengingat], understanding [memahami], applying [menerapkan], analyzing [menganalisis, mengurai], evaluating [menilai] dan creating [mencipta]. Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6. Perubahan istilah dan pola level taksonomi bloom dapat digambarkan sebagai berikut:

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)


Sama dengan sebelum revisi, tiga level pertama [terbawah] merupakan Lower Order Thinking Skills, sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skill. Jadi, dalam menginterpretasikan piramida di atas, secara logika adalah sebagai berikut:

  • Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu
  • Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu
  • Sebelum kita menganalisa maka kita harus menerapkannya dulu
  • Sebelum kita mengevaluasi maka kita harus menganalisa dulu
  • Sebelum kita berkreasi atau menciptakan sesuatu, maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi.

Beberapa kritik dilemparkan kepada penggambaran piramida ini. Ada yang beranggapan bahwa semua kegiatan tidak selalu harus melewati tahap yang berurutan. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja tergantung kreasi tiap orang. Namun demikian, memang diakui bahwa pentahapan itu sebenarnya cocok untuk proses pembelajaran yang terintegrasi. Kritik lain mengatakan bahwa higher level [Menganalisa,
mengevaluasi dan mencipta] sebenarnya bersifat setara sehingga bentuk segitiga menjadi seperti di bawah ini. [Anderson and Krathwohl, 2001; dalam Wikipedia]

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Hingga saat ini ranah afektif dan psikomotorik belum mendapat perhatian. Skill menekankan aspek psikomotorik yang membutuhkan koordinasi jasmani sehingga lebih tepat dipraktekkan bukan dipelajari. Attitude juga merupakan faktor yang sulit diubah selama proses pembelajaran karena attitude terbentuk sejak lahir. Mungkin itulah
alasan mengapa revisi baru dilakukan pada ranah kognitif yang difokuskan pada knowledge.

Bagaimana Cara Menggunakan Taksonomi Bloom?

Dalam kaitannya dengan tugas guru, pengajar atau widyaiswara dalam menyusun kurikulum, pemilihan kata kerja kunci yang tepat memegang peranan penting dalam menjelaskan tujuan program diklat, kompetensi dasar dan indikator pencapaian agar konsep materi tersampaikan secara effektif.

Kata kerja kunci tersebut merupakan acuan bagi instruktur dalam menentukan kedalaman penyampaikan materi, apakah cukup memahami saja, mendemonstrasikan, menilai, dan sebagainya.

Langkah-langkah yang harus digunakan dalam menerapkan Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan tujuan pembelajaran
  2. Tentukan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai apakah peningkatan knowledge, skills atau attitude. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan karakteristik mata diklat [pelajaran], dan peserta didik
  3. Tentukan ranah kemampuan intelektual sesuai dengan kompetensi pembelajaran.
    • Ranah kognitif : Tentukan tingkatan taksonomi, apakah pada tingkatan Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Menilai, Membuat.
    • Ranah Psikomotorik : Kategorikan ranah tersebut, apakah termasuk Persepi, Kesiapan, Reaksi yang diarahkan, Reaksi natural [mekanisme], Adaptasi, Reaksi yang kompleks Kreativitas.
    • Ranah Afektif: Kategorikan ranah tersebut, apakah termasuk penerimaan, Responsif, Nilai yang dianut [Nilai diri], Organisasi dan Karakterisasi.
  4. Gunakan kata kerja kunci yang sesuai, untuk menjelaskan instruksi kedalaman materi, baik pada tujuan program diklat [pelajaran], kompetensi dasar dan indikator pencapaian.
  5. Sebagai tambahan, untuk penerapan taksonomi bloom dalam ranah kognitif, dapat ditentukan pula media pembelajaran yang sesuai dengan mengacu pada Bloom’s Cognitive Wheel. Pilihan media pembelajaran ini dapat dilihat pada lingkaran terluar yang berwarna hijau.

Walaupun Bloom’s Cognitive Wheel ini belum direvisi, namun masih dapat dijadikan acuan mengingat perubahannya yang tidak terlalu signifikan. Untuk lebih jelasnya penerapan taksonomi bloom ini dapat dilihat dalam Bloom’s Cognitive Wheel berikut ini.

Taksonomi Bloom (*Apa dan Bagaimana Menggunakannya?)

Revisi Ranah Kognitif – Pengetahuan [Knowledge]

Kategori dan Proses Kognitif Taksonomi Anderson dan Kratwohl pada dimensi proses
kognitif setelah direvisi terbagi menjadi 6 kategori yaitu: mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Sumber: https://www.defantri.com/2017/06/taksonomi-bloom-apa-dan-bagaimana-menggunakannya.html

5 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke evis yonda Batal balasan