Bab 9 Ikhtisar (1)

Berikut ini ikhtisar tahap-tahap yang harus dilaksanakan dalam menemukan, memperbaiki, menggunakan, dan menjawab masalah penelitian dalam skripsi, tesis, dan disertasi.

Menemukan topik untuk diteliti

Selalu pilih topik yang menarik bagi Anda, bukan topik yang disarankan—apalagi dipaksanakan—oleh orang lain kepada Anda atau topik yang hanya sepintas-kilas menarik. Skripsi, tesis, atau disertasi Anda mungkin rampung dalam waktu enam bulan, setahun, atau lebih lama lagi. Selama waktu itu Anda harus tetap tertarik pada topik yang sudah dipilih. Sejauh menyangkut topik buku ini, Anda mesti menemukan masalah yang sungguh-sungguh ingin Anda temukan jawabannya; kalau bisa, masalah yang membakar semangat Anda. Topik atau masalah itu dapat muncul dari bahan bacaan Anda, atau dari pengalaman, atau dari bidang yang diketahui belum tersentuh. Pada awalnya mungkin topik atau masalahnya masih belum jelas benar, tetapi setelah Anda menelusurinya dan membaca lebih luas, gambaran mengenai topik atau masalah itu bertambah jelas sehingga dapat dirumuskan sebuah atau beberapa masalah.

Memfokuskan topik menjadi masalah

Langkah berikutnya adalah menajamkan topik menjadi masalah atau sejumlah masalah. Dalam banyak hal, tahap ini memunculkan lebih dari satu masalah. Masalah-masalah yang muncul itu mungkin langsung mengenai sasaran yang akan Anda bidik. Yang biasanya terjadi, masalah-masalah itu bergerak seputar sasaran bidik penelitian Anda—menyentuh-nyentuh tujuan Anda menemukan masalah meski belum memberi Anda masalah yang siap dipergunakan. Oleh karena itu, tugas Anda adalah mempertimbangkan berbagai masalah yang berhasil Anda munculkan itu dan memilih masalah mana saja yang akan Anda pertimbangkan lebih jauh. Penting bagi Anda untuk membingkai masalah-masalah tadi ke dalam bentuk pertanyaan alih-alih pernyataan. Setelah terkumpul sejumlah

pertanyaan, cobalah mengelompokkannya ke dalam kotak-kotak masalah. Mana masalah yang termasuk ke dalam satu kotak yang sama? Adakah masalah yang tampak saling bertumpang-tindih (jika ada, buang yang tidak perlu)? Bisakah membuang satu atau lebih masalah?

Mengidentifikasi masalah utama penelitian

Mengidentifikasi masalah utama penting dalam kegiatan penelitian Anda, yang mulai memperlihatkan bentuknya. Mengidentifikasi itu dapat Anda lakukan dengan menjajarkan masalah yang terkumpul dan kemudian memilih salah satu sebagai yang utama, yaitu masalah dengan dampak paling luas, dan ingin Anda jawab. Cara sederhana memilihnya adalah tuliskan setiap masalah ke sehelai kertas kecil—satuhelai untuk satu masalah. Pindah-pindahkan helai-helai kertas berdasarkan kaitannya satu sama lain sampai Anda puas melihat pertalian di antara semua masalah. Hasilnya, akan terlihat mana masalah utama atau terbaik, dan mana saja masalah yang erat terkait atau terkait jauh dengannya. Beberapa masalah yangterkait jauh bisa dibuang.

Setelah memunculkan masalah utama, Anda perlu memperbaikinya, memutuskan kata apa saja yang Anda inginkan ada di dalam masalah. Apakah Anda ingin menelaah pengaruh sebuah variabel terhadap variabel lain; atau telaah atas hakikat ataupun ciri-ciri suatu gejala; atau survei tentang sikap; atau jenis kajian lain? Semua kata dalam masalah penelitian mesti dipertimbangkan dengan cermat karena setiap kata nanti akan dipersoalkan dalam ujian akhir untuk mengetahui apakah Anda memang sudah berhasil menjawab masalah. Pertimbangan lain yang mesti dicamkan adalah apakah masalah penelitian dapat dijawab di dalam waktu yang tersedia bagi Anda dan dengan semua sumber daya yang Anda miliki.

 [Sumber: Andrew, Richards. 2003. Masalah Penelitian. London: Continuum ]

Hakikat Masalah Penelitian (4)

Pertimbangan praktis

 

Cohen et.al. (2000) memberi saran yang membantu bahwa skala pertanyaan penelitian bergantung pula pada “keputusan arah” (hlm. 74), yaitu keputusan yang “akan menetapkan pagar-pagar batas atau parameter penelitian”, yang memberi arah pada penelitian. Ketersediaan waktu untuk melaksanakan penelitian, misalnya, akan memengaruhi jenis pertanyaan penelitian (yakni, masalah penelitian) yang bisa dijawab, juga biaya yang dianggarkan untuk meneliti. Biasanya biaya dihemat sesedikit mungkin; maka, masuk akal untuk tidak menggunakan survei nasional, yang memerlukan biaya perjalanan. Pada sisi lain, penelitian dapat dilaksanakan dengan anggaran amat kecil dengan memanfaatkan surat elektronik atau kuesioner temu muka alih-alih mengirimkan daftar tanya lewat pos; dan dengan mewawancarai sejumlah kecil responden supaya biaya perjalanan dan—lebih penting lagi—alokasi waktu ditekan serendah-rendahnya. Mestilah dicamkan salinan wawancara lisan sangat boros waktu, khususnya jika perlu penerjemahan antarbahasa.

Demikianlah, untuk penelitian selama enam bulan, setahun, atau tiga tahun, yang dilaksanakan oleh seorang peneliti, jenis pertanyaan yang dapat diajukan mesti berjawab di dalam rentang waktu itu. pertanyaan seperti “Apakah efek diberlakukannya Strategi Melek Huruf Nasional pada siswa sekolah dasar di Inggris?” bisa berjawab dengan penelitian penilaian berskala besar oleh sekelompok peneliti dalam masa beberapa tahun. Tidak bijak seorang peneliti yang berusaha menjawab pertanyaan seperti itu dengan jatah waktu setahun atau bahkan tiga tahun. Pertanyaan itu bisa diubah agar tertangani oleh seorang peneliti menjadi “Apakah perubahan kurikulum yang diakibatkan oleh pemberlakuan Strategi Melek Huruf Nasional pada sekolah dasar di [pilih sebuah kota kecil]?” atau “Apakah pendapat guru tentang Strategi Melek Huruf Nasional dan dampaknya terhadap kurikulum sekolah dasar di sekolah di [pilih wilayah perdesaan tertentu]?”.

Ingatlah bahwa kendala waktu dan sumber daya cenderung memengaruhi paradigma yang berfungsi dalam penelitian. Kajian berskala kecil jarang mengajukan pertanyaan mengenai “efek” dalam penelitian pendidikan karena pertanyaan serupa itu membutuhkan percobaan acak terkendali (ada kelompok kendali dan kelompok eksperimen dengan pengambilan sampel secara acak untuk dua kelompok itu) demi kesahihan dan keterandalan maksimal meski bisa saja dilaksanakan percobaan acak terkendali berskala kecil. Lebih dari itu, pertanyaan tentang “efek” terletak di dalam suatu paradigma ilmiah, yang berasumsi bahwa efek “intervensi” dapat diukur dengan keadaan nyata. Di dalam paradigma yang lebih humanistik, penelitian condong mengajukan pertanyaan mengenai sikap atau nilai; mengenai hakikat suatu persoalan; dan mengenai kenyataan suatu situasi. Kecenderungan seperti itu tidak wajib Anda ikuti: Anda boleh saja merancang percobaan atau eksperimen terkendali untuk dilaksanakan dalam alokasi waktu, misalnya, satu tahun; seperti halnya suatu penelitian berskala besar dan makan waktu lama boleh mengajukan pertanyaan evaluative. Sidang pembaca yang tertarik pada beragam paradigma di bidang penelitian pendidikan dan ilmu sosial dipersilakan merujuk kepada bagian pertama buku Researching Education (Meneliti Pendidikan) karangan Scott dan Usher (1999).

Masih ada nasihat lebih jauh mengenai cara mengarahkan pertanyaan penelitian, yang dapat membantu untuk menetapkan hakikat pertanyaan penelitian di dalam Cohen et al. (2000:83—85). Sebuah perbedaan pokok antara pendekatan buku yang And abaca ini dengan pendekatan Cohen et al. adalah bahwa yang disebut terakhir senantiasa merujuk pada “pertanyaan penelitian”, sedangkan buku ini melihat bahwa penting untuk membedakan pertanyaan utama penelitian dari pertanyaan subsider.

[Sumber: Andrews, Richard. 2003. Masalah Penelitian. London: Continuum. Bab I: Hakikat Masalah]

Hakikat Masalah Penelitian (3)

Masalah penelitian dan dasar pemikirannya

 

Sebagian besar pertanyaan penelitian tidak datang dari awang-awang, tetapi berasal dari konteks, atau dari tanggapan atas keadaan. Dengan begitu, pengetahuan tentangnya bergerak maju secara dialogis, atau dialektis, selama proses menanggapi keadaan yang berlangsung, yang dianggap tidak sempurna atau, setidak-tidaknya, baru setengah menjawab kebutuhan dalam konteks persoalan.

Kasus yang bisa dijadikan contoh adalah kebijakan bahasa di Hong Kong pada periode pasca-1997. Karena bertambahnya perniagaan Hong Kong dan Cina daratan, Mandarin atau Putonghua, bahasa nasional Cina, menjadi isu bagi pengambil kebijakan bahasa di wilayah administratif khusus, di mana dua bahasa yang paling banyak dipergunakan adalah Kanton (tepatnya, salah satu dialek dalam bahasa Cina) dan bahasa Inggris. Pertanyaan apakah Putonghua mesti dipergunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah di Hong Kong menjadi masalah rumit, sekaligus mendesak. Dengan kembalinya Hong Kong menjadi bagian Cina, terdapat alasan ekonomi dan juga politik untuk memberi Putonghua kedudukan lebih tinggi di wilayah tersebut, belum lagi kalau menimbang masuknya Cina ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia. Atas latar belakang itu, seorang mahasiswa merumuskan sebuah masalah penelitian:

Haruskah Putonghua menjadi bahasa pengantar di sekolah menengah pertama Hong Kong?

Pertanyaan itu menarik, tetapi juga masalah penelitian yang amat baik karena dapat dijawab dengan berbagai cara: dengan berbicara dengan siswa di sekolah, para kepala sekolah, dosen di lembaga pendidikan tenaga keguruan, pengambil kebijakan. Sebagai pertanyaan yang menanyakan “haruskah”, pertanyaan itu dapat menggunakan opini sebagai data empiris. Namun, sebagai bagian penelitian pertanyaan tersebut membutuhkan tinjauan pustaka penelitian mengenai topik itu, dan tinjauan atas topik yang sama di surat kabar, majalah, dan media popular lain. Pada akhir penelitian, tentu diperoleh jawaban, tetapi serentak dengan itu opini yang terhimpun mungkin derajatnya berbeda-beda, dan bisa jadi terkuak lebih jauh hal-hal menarik yang dapat ditindaklanjuti. Pada taraf paling sederhana, pertanyaan itu terbuka untuk jawaban “ya” atau “tidak” (dan kalau penelitian dilaksanakan melalui survei berskala besar, bisa saja dikatakan “sebagian besar responden yang ditanya merasa bahwa …”); namun, pada taraf paling melit, pertanyaan itu mungkin dijawab dengan opini yang bernuansa sesuai dengan keadaan seputar responden. Sebagai contoh, responden mungkin merasa bahwa ada keadaan dan lingkungan yang di sana Putonghua bahasa pengantar terbaik, dan di tempat lain tidak demikian.

Dengan demikian, pertanyaan itu menarik manfaat dari dasar pemikiran yang membingkainya. Terdapat alasan jelas untuk mengajukan pertanyaan tersebut; dan jawabannya akan menyumbang pada debat publik selain menambahkan pengetahuan mengenai persoalan yang diperdebatkan.

Hakikat Masalah Penelitian (2)

Tidak ada gunanya penelitian dengan pertanyaan yang terlalu luas cakupannya sehingga mustahil menjawabnya di dalam garis batas proyek penelitian, betapapun luasnya garis batas itu. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin berharap menjawab pertanyaan semacam “Apakah hakikat pendidikan?” atau “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di seluruh dunia?”; menjawab pertanyaan seperti itu secara memuaskan di dalam sebuah disertasi, proyek penelitian, tesis, atau skripsi tentu di luar jangkauan sumber daya si mahasiswa dan, lebih jauh, pertanyaan itu sendiri muskil berjawab. Tersirat di sini bahwa tidaklah cukup sekadar mengajukan pertanyaan: pertanyaannya harus dijawab—atau, setidak-tidaknya, berjawab (terbuka kemungkinan untuk ditemukan jawabannya).

Yang saya maksud dengan “berjawab” adalah pertanyaan—yakni, masalah—penelitian harus berpeluang terjawab di dalam kegiatan penelitian yang tengah dikerjakan. Dapat terjadi bahwa pertanyaan itu tidak mendapat jawaban yang pasti. Hasil seperti itu dapat diterima karena paling tidak Anda sudah mencoba menjawabnya. Hasil yang Anda peroleh mungkin memberikan titik terang; jawaban yang diperoleh itu melahirkan gagasan agar pertanyaannya dirumuskan kembali secara berbeda; hasil tersebut mungkin juga “negatif”, dalam arti tidak seperti yang Anda harapkan atau perkirakan. Semua kemungkinan tentang hasil akhir itu sama bermanfaatnya karena kita menjadi bertambah tahu seusai proses penelitian, bila dibandingkan dengan pengetahuan kita sebelumnya, mengenai fokus atau proses penelitiannya.

Contohnya kata “dampak”. Ilmuwan eksakta, sosial, pakar psikologi, dan ilmuwan lain yang bekerja di dalam ranah paradigma ilmiah sebagian besar merasa yakin bahwa mereka dapat mengukur “efek” dengan melakukan percobaan acak terkendali. Pada dasarnya, percobaan atau eksperimen seperti itu membuat dua kelompok—kelompok kendali dan kelompok eksperimen—dan suatu intervensi dilakukan terhadap kelompok eksperimen untuk mengetahui apakah tindakan itu menimbulkan efek. Pengacakan adalah cara terbaik untuk menjamin bahwa dua kelompok sampel itu semirip mungkin. Dalam paradigma semacam itu dipandang bahwa x dapat menimbulkan efek sebab-akibat terhadap y, dengan catatan bahwa semua faktor atau “variabel” terkendali. Namun, dampak istilah yang lebih luas daripada “efek”. Bekerjanya suatu gejala terhadap gejala lain kurang ketat berkaitan—secara logis dan kausal—dan dapat bersifat tidak langsung ataupun langsung. Oleh karena itu, Anda harus mendefinisikan arti “dampak”. Apakah pengertian “dampak” terletak di antara pengertian “efek”, yang sangat terukur dan terbingkai ketat, dengan pengertian “pengaruh”, yang terasa kabur? Kalau ya, persisnya di mana? Sekalangan orang merasa istilah “dampak” bersinonim dengan “efek”; sekalangan lain tidak sependapat. Apakah istilah tersebut menyiratkan keharusan untuk menerapkan strategi atau hubungan kausal tertentu? Apakah bersifat multifaktor alih-alih hasil dari sebuah faktor saja? Jika ya, apakah metodologi dan metode yang mesti digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak x terhadap y?

Apa yang tersingkap dari bahasan setakat ini adalah skala suatu pertanyaan penting bagi rancangan penelitian Anda. Beberapa pertanyaan lebih besar skalanya daripada pertanyaan lain sehingga perlu pendekatan berbeda untuk menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang lebih besar lagi tidak berjawab. Pola yang sangat lazim dalam kajian dan proyek penelitian adalah bahwa suatu tujuan yang luas diolah menjadi sebuah masalah yang dapat ditangani, pada taraf awal penelitian (dan barangkali juga selama penelitian dikerjakan). Pengolahan ini dilakukan agar berpindah dari tujuan penelitian yang luas ke masalah spesifik yang bisa ditangani, yang akan menentukan bentuk, arah, dan kemajuan penelitian.

Kembali ke contoh tadi. Pertanyaan semacam “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di seluruh dunia?” berada di tingkat jeneralitas yang tidak berjawab (kecuali kalau itu karangan jurnalisme spekulatif). Skalanya tidak mungkin bisa ditangani. Pertanyaan tersebut dapat diubah menjadi lebih tertangani, sehingga lebih bisa diteliti, dengan mengerucutkannya menjadi seperti “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di Inggris?” dan lebih jauh, seperti dalam contoh berikut ini.

Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran untuk usia 12—14 tahun di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran untuk usia 12—14 tahun di luar sekolah di Inggris?

Masih banyak yang mesti didefinisikan: Apakah yang dimaksud dengan dampak? Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran? Dan apakah kajian itu diniatkan untuk mencakup seluruh Britania Raya atau hanya salah satu di antara Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales? Masing-masing pertanyaan itu menyertakan skala kajian tertentu. Anda mesti mengubah pertanyaan penelitian sampai yakin bahwa Anda dapat menjawabnya dalam garis batas, bukan saja panjangnya laporan atau disertasi Anda, melainkan juga dalam garis batas sumber daya yang Anda miliki pada waktu penelitian dilaksanakan.

Hakikat Masalah Penelitian (1)

Di dalam sebuah buku pendek, yang sangat baik, tentang hakikat masalah (Mitchell, 1992), Sally Mitchell menelusuri perkara ini dari sudut sosial dan bahasa. Meski bukan kajian tentang masalah penelitian, buku itu membahas hal-hal penting berkenaan dengan masalah, yang perlu kita perhitungkan dalam mengajukan masalah penelitian. Buku tersebut bermula dengan sebuah pertanyaan:

Tanya diri Anda sendiri: bagaimanakah rasanya kalau Anda ditanya? (Hlm. 5)

Meskipun proses merancang penelitian menuntut Anda untuk selalu bertanya daripada menjawab pertanyaan, amat penting untuk ingat bagaimana rasanya kalau Anda menjadi orang yang menerima pertanyaan. Jika Anda menggunakan kuesioner atau wawancara sebagai salah satu metode penelitian Anda, responden akan menjadi pihak yang mendapat pertanyaan. Mitchell melanjutkan sebagai berikut:

 Apakah Anda berpikir tentang siapa yang bertanya, di mana, kapan, bagaimana, mengapa? Sementara buah perenungan Anda bisa sangat bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapatlah ditarik simpulan umum: ditanya itu terasa seperti ditantang atau diuji. Umumnya kita merasa ditekan agar menjawab: hanya politikus bisa mengelak dari pertanyaan tanpa rasa bersalah atau malu. (ibid.)

Maka, pertanyaan terkait dengan konteksnya dan biasanya pihak yag bertanyalah yang berkuasa. Sebagai peneliti, Anda berada di pihak yang berkuasa karena Andalah yang membingkai dan mengendalikan kajiannya. Meskipun Anda harus peka akan konteks yang melingkungi penelitian Anda, dan walaupun Anda akan mencoba dan menguji metodologi agar sesuai dengan tugas yang tengah dikerjakan, Anda tetap berkuasa dalam memilih cara melaksanakan penelitian dan masalah utamanya. Ketika mengajukan pertanyaan kepada responden, Anda setengahnya menentukan jawaban mereka. Inilah yang dikatakan Mitchell mengenai mengajukan pertanyaan, bila dibandingkan dengan menjawab pertanyaan:

Sangat sering Anda berada dalam keadaan menjalankan kendali. Dalam suatu percakapan, ketika penutur selesai berbicara, kendali itu, berdasarkan kelaziman, diserahkan kepada pendengar yang sebelumnya pasif. Acapkali kesempatan berbicara itu diambil oleh mereka yang sudah memegang kuasa, para guru, pakar, orang dewasa. (ibid.)

Jadi, dengan mengajukan pertanyaan, dan kemudian mengajukan pertanyaan lanjutannya kepada para responden, Anda memegang kendali atas proses penelitian.

Apakah ada hal lain yang mencuat dari tindakan membingkai penelitian dengan pertanyaan? Pertanyaan penelitian tidak sama dengan pertanyaan biasa. Pertanyaan penelitian bersifat ingin tahu karena diharapkan mendapat jawaban (tidak mesti berupa tukasan). Suatu pertanyaan penelitian harus berjawab—harus dapat dijawab.

[Sumber: Andrews, Richard. 2003. Masalah Penelitian. London: Continuum. Bab I Hakikat Masalah]