Home » Beranda » MASJID JAMI AL-ANWAR CAGAR BUDAYA KOTA BANDARLAMPUNG

MASJID JAMI AL-ANWAR CAGAR BUDAYA KOTA BANDARLAMPUNG

Mata Kuliah

Jurnalistik

Alfanny Pratama Fauzi (1513041010)

Anania Eviyana Luxerima Sitohang (1513041052)

Okyana Giti Ananti (1513041020)

 

Kokohnya Masjid Tertua di Lampung

Sebuah masjid berdiri di pusat perdagangan di Jl. Laksamana Malahayati No. 100, Teluk Betung Selatan, Bandarlampung. Masjid beratap genting hijau dengan dinding putih bergaris kuning ini bernama masjid Jami Al-Anwar yang sudah berusia 177 tahun. Namun, karena masih  kokohnya fisik masjid ini, membuat  banyak yang tak tahu  masjid ini sudah dinobatkan sebagai masjid tertua di Lampung.

Saat memasuki perkarangan masji  langsung melihat dua meriam peninggalan penjajah yang sudah tak berfungsi lagi, serta terdapat menara setinggi 26 meter. Sedangkan, bagian dalam  Masjid yang berukuran 30×35 meter ini memiliki ruang perpustakaan, tempat wudhu, serta ruang salat utama yang dapat menampung hingga 2.000 jamaah. Berbagai kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an berwarna kuning keemasan terlukis di langit-langit masjid menambah kesan estetis.

Tak hanya itu, sejak masjid ini berdiri sudah di topang enam tiang penyangga sampai saat ini masih kokoh berdiri yang mencerminkan jumlah rukun iman dalam Agama Islam.  Menurut Rusdi (42) selaku pengurus Masjid Jami Al-Anwar enam penyangga itu sudah sejak awal berdiri terbuat dari kayu, namun saat ini sudah di lapisi bata dan semen. “ Sebanarnya dalamnya itu kayu sampai saat ini masih kayu,seperti kayu jati  bukan cor untuk menjaga keasliannya,” katanya.

Sejarah Masjid

Fisik bangunan yang terlihat kokoh, membuat tak sadar jika masjid ini berumur seabad lebih, tepatnya sudah 177 tahun berdiri. Masjid ini didirikan pada tahun 1839 atas prakarsa seorang ulama keturunan Kesultanan Bone, bernama Muhammad Saleh bin Kareng. Saat pertama kali dibangun, masjid ini hanya berbentuk musala (surau) kecil beratap rumbia, berdinding geribik serta bambu tua yang berdiri di atas tanah wakaf.

Musala bernama Al-Anwar yang berarti ‘bercahaya’ tersebut dahulunya tak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah dan pembinaan agama Islam bagi masyarakat sekitar. Musala tersebut juga digunakan sebagai tempat berkumpul para ulama untuk mengatur strategi menghadapi penjajah.

Pada tahun 1883, Gunung Krakatau meletus dan menghancurkan musala hingga tak berbentuk lagi. “Dampak peristiwa gunung Krakatau, habis meletus habis,” ungkap Rusdi (42). Menurut pengurus masjid Jami Al- Anwar ini, setelah kejadian, tidak ada aktivitas apapun di mushola tersebut. Baru setelah lima tahun berselang, tepatnya pada tahun 1988, bersama Daeng Sawijaya dan beberapa ulama dan tokoh lampung lainnya, Muhammad Saleh membangun masjid di atas tanah bekas musala yang hancur. Masjid baru tersebut pun diberi nama Masjid Jami Al-Anwar yang bertahan hingga sekarang.

Masjid tertua di Lampung ini sudah empat kali direnovasi. Renovasi pertama di tahun 1962, dengan membangun menara masjid yang sampai saat ini masih kokoh berdiri di halaman depan masjid. Renovasi kedua terjadi pada tahun 1994, yang turut merubah tinggi menara menjadi 26 meter. Pada tahun 1997, renovasi ketiga dilakukan untuk memperluas masjid dan renovasi terakhir terjadi pada tahun 2015 oleh pemerintah daerah tingkat 1, Provinsi Lampung untuk memperbaiki atap masjid yang kerap bocor saat hujan.

Peninggalan  Masjid Jami Al-Anwar

Seabad lebih berdiri masjid bersejarah ini memiliki beberapa peninggalan sejarah yang juga unik. Saat pertama memasuki halaman masjid, kita akan melihat dua buah meriam peninggalan Bangsa Portugis (tahun 1811) yang sudah tak berfungsi. Suara dentuman meriam ini pun konon dapat terdengar hingga 3 kilometer jauhnya. Dahulu, dentuman meriam tersebut tak hanya sebagai simbol menggelorakan perjuangan melawan penjajah, tetapi juga digunakan sebagai penanda waktu berbuka puasa.

“Meriam ini bukti perjuangan ulama pada zaman dulu ikut melawan penjajah yang saat ini masih ada di depan masjid dan dulu untuk masyarakat sekitar sebagai tanda buka puasa saat Ramadhan,” ujar Rusdi.

Memasuki masjid, Rusdi menunjukan Al-quran tertua yang sudah  berusia 150 tahun lebih dan  perpustakaan untuk menyimpan bukti-bukti sejarah berdirinya masjid, beberapa ensiklopedia, dan kisah meletusnya gunung krakatau yang ditulis dalam Bahasa Belanda.

“Al-quran tertua sudah satu abad lebih sejak berdiri masjid tulisan tangan dan tak bisa dipegang kalo dipegang rapuh gitu,” tambahnya.

Selain dua meriam dan koleksi buku tua di perpustakaan, terdapat pula sumur tua peninggalan jaman penjajahan yang terletak di belakang masjid. Meski sudah seabad lebih, air di dalam sumur tak pernah kering dan sampai saat ini masih digunakan untuk berwudu para jamaah.

Menurut salah satu jamaah, Tarmidzi (56) hanya sering mendengar Masjid Jami Al-anwar ini masjid tua yang di Bandarlampung. “Tentang sejarah masjid ini masjid tertua di Bandarlampung, tapi untuk lebih tau itu kurang tau saya,” ungkapnya.

Simak reportase kami di sini .