Home » Ruang Baca » Hakikat Masalah Penelitian (3)

Hakikat Masalah Penelitian (3)

Masalah penelitian dan dasar pemikirannya

 

Sebagian besar pertanyaan penelitian tidak datang dari awang-awang, tetapi berasal dari konteks, atau dari tanggapan atas keadaan. Dengan begitu, pengetahuan tentangnya bergerak maju secara dialogis, atau dialektis, selama proses menanggapi keadaan yang berlangsung, yang dianggap tidak sempurna atau, setidak-tidaknya, baru setengah menjawab kebutuhan dalam konteks persoalan.

Kasus yang bisa dijadikan contoh adalah kebijakan bahasa di Hong Kong pada periode pasca-1997. Karena bertambahnya perniagaan Hong Kong dan Cina daratan, Mandarin atau Putonghua, bahasa nasional Cina, menjadi isu bagi pengambil kebijakan bahasa di wilayah administratif khusus, di mana dua bahasa yang paling banyak dipergunakan adalah Kanton (tepatnya, salah satu dialek dalam bahasa Cina) dan bahasa Inggris. Pertanyaan apakah Putonghua mesti dipergunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah di Hong Kong menjadi masalah rumit, sekaligus mendesak. Dengan kembalinya Hong Kong menjadi bagian Cina, terdapat alasan ekonomi dan juga politik untuk memberi Putonghua kedudukan lebih tinggi di wilayah tersebut, belum lagi kalau menimbang masuknya Cina ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia. Atas latar belakang itu, seorang mahasiswa merumuskan sebuah masalah penelitian:

Haruskah Putonghua menjadi bahasa pengantar di sekolah menengah pertama Hong Kong?

Pertanyaan itu menarik, tetapi juga masalah penelitian yang amat baik karena dapat dijawab dengan berbagai cara: dengan berbicara dengan siswa di sekolah, para kepala sekolah, dosen di lembaga pendidikan tenaga keguruan, pengambil kebijakan. Sebagai pertanyaan yang menanyakan “haruskah”, pertanyaan itu dapat menggunakan opini sebagai data empiris. Namun, sebagai bagian penelitian pertanyaan tersebut membutuhkan tinjauan pustaka penelitian mengenai topik itu, dan tinjauan atas topik yang sama di surat kabar, majalah, dan media popular lain. Pada akhir penelitian, tentu diperoleh jawaban, tetapi serentak dengan itu opini yang terhimpun mungkin derajatnya berbeda-beda, dan bisa jadi terkuak lebih jauh hal-hal menarik yang dapat ditindaklanjuti. Pada taraf paling sederhana, pertanyaan itu terbuka untuk jawaban “ya” atau “tidak” (dan kalau penelitian dilaksanakan melalui survei berskala besar, bisa saja dikatakan “sebagian besar responden yang ditanya merasa bahwa …”); namun, pada taraf paling melit, pertanyaan itu mungkin dijawab dengan opini yang bernuansa sesuai dengan keadaan seputar responden. Sebagai contoh, responden mungkin merasa bahwa ada keadaan dan lingkungan yang di sana Putonghua bahasa pengantar terbaik, dan di tempat lain tidak demikian.

Dengan demikian, pertanyaan itu menarik manfaat dari dasar pemikiran yang membingkainya. Terdapat alasan jelas untuk mengajukan pertanyaan tersebut; dan jawabannya akan menyumbang pada debat publik selain menambahkan pengetahuan mengenai persoalan yang diperdebatkan.