Home » Ruang Baca » Hakikat Masalah Penelitian (2)

Hakikat Masalah Penelitian (2)

Tidak ada gunanya penelitian dengan pertanyaan yang terlalu luas cakupannya sehingga mustahil menjawabnya di dalam garis batas proyek penelitian, betapapun luasnya garis batas itu. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin berharap menjawab pertanyaan semacam “Apakah hakikat pendidikan?” atau “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di seluruh dunia?”; menjawab pertanyaan seperti itu secara memuaskan di dalam sebuah disertasi, proyek penelitian, tesis, atau skripsi tentu di luar jangkauan sumber daya si mahasiswa dan, lebih jauh, pertanyaan itu sendiri muskil berjawab. Tersirat di sini bahwa tidaklah cukup sekadar mengajukan pertanyaan: pertanyaannya harus dijawab—atau, setidak-tidaknya, berjawab (terbuka kemungkinan untuk ditemukan jawabannya).

Yang saya maksud dengan “berjawab” adalah pertanyaan—yakni, masalah—penelitian harus berpeluang terjawab di dalam kegiatan penelitian yang tengah dikerjakan. Dapat terjadi bahwa pertanyaan itu tidak mendapat jawaban yang pasti. Hasil seperti itu dapat diterima karena paling tidak Anda sudah mencoba menjawabnya. Hasil yang Anda peroleh mungkin memberikan titik terang; jawaban yang diperoleh itu melahirkan gagasan agar pertanyaannya dirumuskan kembali secara berbeda; hasil tersebut mungkin juga “negatif”, dalam arti tidak seperti yang Anda harapkan atau perkirakan. Semua kemungkinan tentang hasil akhir itu sama bermanfaatnya karena kita menjadi bertambah tahu seusai proses penelitian, bila dibandingkan dengan pengetahuan kita sebelumnya, mengenai fokus atau proses penelitiannya.

Contohnya kata “dampak”. Ilmuwan eksakta, sosial, pakar psikologi, dan ilmuwan lain yang bekerja di dalam ranah paradigma ilmiah sebagian besar merasa yakin bahwa mereka dapat mengukur “efek” dengan melakukan percobaan acak terkendali. Pada dasarnya, percobaan atau eksperimen seperti itu membuat dua kelompok—kelompok kendali dan kelompok eksperimen—dan suatu intervensi dilakukan terhadap kelompok eksperimen untuk mengetahui apakah tindakan itu menimbulkan efek. Pengacakan adalah cara terbaik untuk menjamin bahwa dua kelompok sampel itu semirip mungkin. Dalam paradigma semacam itu dipandang bahwa x dapat menimbulkan efek sebab-akibat terhadap y, dengan catatan bahwa semua faktor atau “variabel” terkendali. Namun, dampak istilah yang lebih luas daripada “efek”. Bekerjanya suatu gejala terhadap gejala lain kurang ketat berkaitan—secara logis dan kausal—dan dapat bersifat tidak langsung ataupun langsung. Oleh karena itu, Anda harus mendefinisikan arti “dampak”. Apakah pengertian “dampak” terletak di antara pengertian “efek”, yang sangat terukur dan terbingkai ketat, dengan pengertian “pengaruh”, yang terasa kabur? Kalau ya, persisnya di mana? Sekalangan orang merasa istilah “dampak” bersinonim dengan “efek”; sekalangan lain tidak sependapat. Apakah istilah tersebut menyiratkan keharusan untuk menerapkan strategi atau hubungan kausal tertentu? Apakah bersifat multifaktor alih-alih hasil dari sebuah faktor saja? Jika ya, apakah metodologi dan metode yang mesti digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak x terhadap y?

Apa yang tersingkap dari bahasan setakat ini adalah skala suatu pertanyaan penting bagi rancangan penelitian Anda. Beberapa pertanyaan lebih besar skalanya daripada pertanyaan lain sehingga perlu pendekatan berbeda untuk menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang lebih besar lagi tidak berjawab. Pola yang sangat lazim dalam kajian dan proyek penelitian adalah bahwa suatu tujuan yang luas diolah menjadi sebuah masalah yang dapat ditangani, pada taraf awal penelitian (dan barangkali juga selama penelitian dikerjakan). Pengolahan ini dilakukan agar berpindah dari tujuan penelitian yang luas ke masalah spesifik yang bisa ditangani, yang akan menentukan bentuk, arah, dan kemajuan penelitian.

Kembali ke contoh tadi. Pertanyaan semacam “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di seluruh dunia?” berada di tingkat jeneralitas yang tidak berjawab (kecuali kalau itu karangan jurnalisme spekulatif). Skalanya tidak mungkin bisa ditangani. Pertanyaan tersebut dapat diubah menjadi lebih tertangani, sehingga lebih bisa diteliti, dengan mengerucutkannya menjadi seperti “Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di Inggris?” dan lebih jauh, seperti dalam contoh berikut ini.

Apakah dampak teknologi komunikasi terhadap pembelajaran di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran untuk usia 12—14 tahun di Inggris?

Apakah dampak komputer laptop terhadap pembelajaran untuk usia 12—14 tahun di luar sekolah di Inggris?

Masih banyak yang mesti didefinisikan: Apakah yang dimaksud dengan dampak? Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran? Dan apakah kajian itu diniatkan untuk mencakup seluruh Britania Raya atau hanya salah satu di antara Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales? Masing-masing pertanyaan itu menyertakan skala kajian tertentu. Anda mesti mengubah pertanyaan penelitian sampai yakin bahwa Anda dapat menjawabnya dalam garis batas, bukan saja panjangnya laporan atau disertasi Anda, melainkan juga dalam garis batas sumber daya yang Anda miliki pada waktu penelitian dilaksanakan.