Home » Ruang Baca » Hakikat Masalah Penelitian (1)

Hakikat Masalah Penelitian (1)

Di dalam sebuah buku pendek, yang sangat baik, tentang hakikat masalah (Mitchell, 1992), Sally Mitchell menelusuri perkara ini dari sudut sosial dan bahasa. Meski bukan kajian tentang masalah penelitian, buku itu membahas hal-hal penting berkenaan dengan masalah, yang perlu kita perhitungkan dalam mengajukan masalah penelitian. Buku tersebut bermula dengan sebuah pertanyaan:

Tanya diri Anda sendiri: bagaimanakah rasanya kalau Anda ditanya? (Hlm. 5)

Meskipun proses merancang penelitian menuntut Anda untuk selalu bertanya daripada menjawab pertanyaan, amat penting untuk ingat bagaimana rasanya kalau Anda menjadi orang yang menerima pertanyaan. Jika Anda menggunakan kuesioner atau wawancara sebagai salah satu metode penelitian Anda, responden akan menjadi pihak yang mendapat pertanyaan. Mitchell melanjutkan sebagai berikut:

 Apakah Anda berpikir tentang siapa yang bertanya, di mana, kapan, bagaimana, mengapa? Sementara buah perenungan Anda bisa sangat bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapatlah ditarik simpulan umum: ditanya itu terasa seperti ditantang atau diuji. Umumnya kita merasa ditekan agar menjawab: hanya politikus bisa mengelak dari pertanyaan tanpa rasa bersalah atau malu. (ibid.)

Maka, pertanyaan terkait dengan konteksnya dan biasanya pihak yag bertanyalah yang berkuasa. Sebagai peneliti, Anda berada di pihak yang berkuasa karena Andalah yang membingkai dan mengendalikan kajiannya. Meskipun Anda harus peka akan konteks yang melingkungi penelitian Anda, dan walaupun Anda akan mencoba dan menguji metodologi agar sesuai dengan tugas yang tengah dikerjakan, Anda tetap berkuasa dalam memilih cara melaksanakan penelitian dan masalah utamanya. Ketika mengajukan pertanyaan kepada responden, Anda setengahnya menentukan jawaban mereka. Inilah yang dikatakan Mitchell mengenai mengajukan pertanyaan, bila dibandingkan dengan menjawab pertanyaan:

Sangat sering Anda berada dalam keadaan menjalankan kendali. Dalam suatu percakapan, ketika penutur selesai berbicara, kendali itu, berdasarkan kelaziman, diserahkan kepada pendengar yang sebelumnya pasif. Acapkali kesempatan berbicara itu diambil oleh mereka yang sudah memegang kuasa, para guru, pakar, orang dewasa. (ibid.)

Jadi, dengan mengajukan pertanyaan, dan kemudian mengajukan pertanyaan lanjutannya kepada para responden, Anda memegang kendali atas proses penelitian.

Apakah ada hal lain yang mencuat dari tindakan membingkai penelitian dengan pertanyaan? Pertanyaan penelitian tidak sama dengan pertanyaan biasa. Pertanyaan penelitian bersifat ingin tahu karena diharapkan mendapat jawaban (tidak mesti berupa tukasan). Suatu pertanyaan penelitian harus berjawab—harus dapat dijawab.

[Sumber: Andrews, Richard. 2003. Masalah Penelitian. London: Continuum. Bab I Hakikat Masalah]